oleh

Pekanbaru Malam Ini, Ada yang Tak Beres…

-Narasi-380 views

Pekanbaru, (cMczone) – Di tengah riuh bising sahut-sahutan suara knalpot kendaraan, lengkap dengan asap dan dedebu. Warna merah, oren dan hijau lampu lalu lintas bergantian. Pendar billboard dari brand-brand makanan, pakaian, kosmetik dan barang-barang yang berharga mahal menjadi cover di dinding bagian luar bangunan mall. Dua bangunan mall mengapit flyover yang tak pernah sepi dari pagi buta hingga tengah malam hari.

Deretan mobil berarak melamban manakala lampu lalu lintas berganti ke warna merah. Satu persatu dari anak-anak muda belia, bahkan anak-anak kecil berpakaian kumal dengan alat pembersih debu sederhana, membaur ke tengah jalan dengan segera. Disapu-sapunya dedebu di badan satu-persatu mobil dengan kemoceng, lalu tangan mereka menengadah di kaca mobil, mengharap sang pemilik yang mobilnya sudah mereka bersihkan, akan berbelas kasihan mengulurkan selembar dua ribuan.

Nasib baik tak selalu jadi pemenang. Lebih seringnya usaha itu ditepis dengan rasa “siapa suruh” oleh sang pemilik mobil. Sebuah tanggapan yang tak sampai keluar dari kaca mobil, bahkan mungkin tak sampai keluar dari mulut-mulut mereka yang duduk di belakang setir.

Baca Juga :   Gerakan itu bernama “SUGER BERGERAK”

Pada hari di minggu pertama di suatu bulan, jumlah mereka hanya sebagian. Tak banyak hitungan. Beralih ke minggu-minggu selanjutnya, ketika angka pada tanggal bertambah, jumlah mereka pun ikut bertambah. Sialnya, pada awal bulan berikutnya, bukan berkurang namun mereka malah semakin nyaman. Nyaman yang sebetulnya mengganggu kenyamanan pengendara di jalan itu. Nyaman mencari uang dengan cara yang brangkali membuat orang lain jadi tak nyaman.

Beralih ketika lampu menyala jingga, lalu disusul warna hijau dengan segera. Gerombolan anak-anak muda belia dan anak-anak kecil menepi di pojokan flyover. Ada yang hanya berdiri, ada yang menggaruk-garuk badan lusuhnya, ada yang bermain layaknya anak kecil seusia mereka, ada pula anak perempuan tujuh tahun yang membenahi posisi anak dua tahun dalam gendongannya. Malam hari, hujan bisa jadi, tanpa alas kaki, tanpa baju hangat apalagi penutup kepala yang melindungi.

Mereka cukup professional, mengerti job desk masing-masing. Tahu betul kapan harus istirahat, dan kapan harus bergerak lagi. Mereka tak malas, meski bertampang melas. Namun apakah pantas? Dan lagi, siapa yang mengajari?

Baca Juga :   Sikap Dalam Mengahadapi Wabah Corona : Perspekstif Aliran Dalam Islam

Pemandangan seperti itu, persis, pernah suatu ketika aku lihat dalam sebuah tayangan sinetron di televisi. Yang lalu pada akhir cerita, ketika jalanan sudah melengang, gerombolan anak-anak itu dijemput secara bersama-sama untuk kemudian dibawa ke sebuah tempat istirahat yang tak cukup layak. Hasil ‘turun ke jalan’ dikumpulkan, dihitung, untuk kemudian satu persatu dari mereka akan dimarahi ketika hasil yang didapat tak cukup banyak. Bahkan jika sang koordinator cukup tega, bisa jadi mereka yang bersetoran kurang tak akan diberi jatah makan. Itu yang pernah aku lihat di televisi, apakah terjadi juga pada mereka? Entahlah.

Pukul delapan malam, dengan mengendarai sepeda motor, tanpa sengaja kutoleh satu persatu dari mereka. Sengaja dari arah Jalan Nangka aku berputar balik di Arengka, berhenti di lampu merah lalu kemudian berbelok kembali menuju Jalan Nangka. Dengan kurang kerjaannya aku menghitung jumlah mereka, mengamati satu persatu tampangnya, memperkirakan usianya. Lebih dari lima, hampir sepuluh anak atau bahkan mungkin lebih. Dari percakapanku dengan sahabat-sahabat di grup whatsapp saat aku membagikan cerita itu pada mereka, ada yang memberi kesaksian bahwa anak-anak itu dijemput bersama saat pukul sebelas malam. Mirip betul dengan cerita sinetron di televisi, ya?

Baca Juga :   Lama Menunggu, Terima Kasih Bapak Varial Adhi Putra PJS Bupati Tanjab Timur

Sialnya, yang aku lihat itu bukan lagi di televisi. Tapi tepat di depan mata. Di Kota Madani yang menjadi kebanggaan. Kota Pekanbaru. Di antara hedonnya suasana kota, di tengah mewah dan meriahnya rupa-rupa, terselip ketidak-elokan yang entah sudah berlangsung berapa lama. Yang aku tahu, jumlah mereka bertambah dan terus bertambah saja. Dengan polos aku berpikir, kemana mereka yang berkewenangan menata kota, termasuk segala rupa-rupa ketidak-beresan yang nyata yang jujur saja merusak nyaman dan eloknya sebutan kota.

Baiklah. Pada narasi ini aku bercerita. Semoga berguna dan dibaca oleh mereka yang lebih dapat bersuara. Mereka, anak-anak itu…mereka berhak mendapat hidup layak, kondisi nyaman dan pendidikan yang baik. Bukan untuk dipajang tampang melasnya demi mengeruk pundi-pundi yang tak seberapa. Bukan untuk itu. Pun pengguna jalan berhak dengan kenyamanan jalan, tanpa gangguan, tanpa diganggu pandangannya, tanpa perlu itu semua.

Malam ini, di Kota Madani
Riana Rey

Komentar

Berita Lainnya