oleh

ANSAR AHMAD dan Filosofi Kue Klepon

Dalam minggu-minggu ini popularitas kue klepon terus menanjak naik. Saking viralnya, popularitas kue klepon menggeser nama-nama calon kepala daerah yang saat ini hangat dibicarakan oleh seluruh masyarakat di Indonesia. 

Terutama di kalangan ibu-ibu yang kebanyakan memang penggila kuliner, kue klepon kini menjadi bahasa trend dan hangat disetiap perbincangan mereka. Dunia media sosial kemudian juga ramai-ramai mengendorse klepon dengan segala keunikannya.

Kue klepon merupakan salah satu kue tradisional Jawa yang namanya mulai popular sekitar tahun 1950 an. Adalah orang Indonesia yang membawa kue dengan bahan ketan, kelapa muda dan gula Jawa itu ke Belanda.

Dan sampai sekarang di Negeri Kincir Angin itu nama kue tradisional Jawa tersebut tetap tak berubah. Orang Belanda tetap menyebutnya “Klepon”.

Dari bentuk dan rasa, kue klepon memang istimewa. Penggagas awal pembuatan kue klepon saya pikir termasuk cerdas dan brilian. Bagaimana tidak, kue tersebut bisa disajikan dalam berbagai warna meski kebanyakan yang dominan adalah warna hijau.

Baca Juga :   Kurang dari 24 Jam, Pembobol Gudang Swalayan Pinang Lestari Dibekuk Tim Opsnal Polsek Tanjungpinang Timur

Kuenya dibuat bulat sebesar kelereng atau bola tenis meja. Taburan parutan kelapa muda dan pincuk kecil sebagai wadahnya menjadi kue eksotis yang mengundang daya tarik kebanyakan orang. Dan ketika dimakan menimbulkan sensasi rasa yang luar biasa. Kue klepon lembut di luar dan manis di dalam.

Dalam perspektif politik dan kebijakan, harusnya para penguasa dan pejabat bisa menjadikan filosofi kue klepon jadi acuan dalam mengambil keputusan dan kebijakan.

Kebijakan dan keputusan yang dibuat harus terasa enak dan nikmat yang menyebar ke seluruh lapisan masyarakat. Tidak hanya nikmat di dalam (di lingkungan penguasa saja) tetapi nikmat dan enak itu juga harus bisa dirasakan oleh orang-orang yang berada di pinggiran, di puncak gunung, di pedalaman dan mereka-mereka yang tinggal di bibir pantai yang setiap hari selalu akrab dengan ombak dan badai.

Baca Juga :   Tidak Tepat Sasaran, Pembagian BLT DD Sendayan, Disebut Tidak Melibatkan RT Setempat ?

Secara pribadi saya menilai, salah satu pejabat di Negeri Melayu Kepulauan Riau ini yang dalam mengambil kebijakan dan keputusan sesuai filosofi kue klepon adalah Ansar Ahmad.

Mungkin penilaian saya ini oleh sebagian orang dinilai terlalu berlebihan, tetapi fakta di lapangan asumsi yang saya berikan saya pikir cukup rasional.

Selama menjabat sebagai kepala daerah, ketua partai dan anggota DPR RI, Ansar selalu meramu program kerja dengan baik. Ansar sadar ramuan program kerja yang baik mampu menghasilkan rasa kebijakan yang enak dan baik bagi masyarakatnya.

Karena itu, sebelum menjadi sebuah kebijakan, mantan Bupati Bintan dua periode ini selalu mengemas program kerja dan kegiatan dengan rapi, indah, terstruktur dan sistematis.

Baca Juga :   Plh. Bupati Buka Sosilasi BPNT

Seperti membuat adonan kue klepon, Ansar menyusun program kerja dengan sebuah keuletan, kesabaran tingkat tinggi dan bumbu gagasan yang cerdas.

Dan endingnya akhirnya semua tahu, kue klepon kebijakan yang dihasilkan Ansar Ahmad memang mengundang decak kagum masyarakat yang menikmatinya. Kebijakan itu terasa enak, lembut dan manisnya menyebar ke seluruh kerongkongan masyarakat Bintan.

Sikap lembut, murah senyum, pribadi yang sederhana dan ramah seorang Ansar Ahmad jadi pembungkus yang menawan kue klepon kebijakan yang dia persembahkan bagi negeri dan masyarakat yang dicintainya.

“Ah, siang-siang begini ngopi sambil menikmati kue klepon memang nikmat beda”

Tabik Tuan dan Puan,

-Suyono Saeran-

Komentar

Berita Lainnya