oleh

Wali Feri,Passion Penjelajah Yang Tak Terjajah.

Oleh: Indra jaya Piliang

(cMczone.com) -Jika pengenalan pribadi menjadi parameter terpenting dalam dukung-mendukung dan usung-mengusung toko bagi jabatan publik, sudah lama demokrasi terjat. Jika pengenalan pribadi menjadi parameter terpenting dalam dukung-mendukung dan usung-mengusung tokoh bagi jabatan publik, sudah lama demokrasi terjatuh ke dalam tonggak oligarki, tembok aristorkrasi dan pedang kaum feodal. Untunglah, kesadaran seperti itu tak menjadi dominan di Indonesia, apalagi di Sumatera Barat. Kelompok yang paling sensitif terhadap dominasi, monopoli, apalagi hegemoni berasal dari kalangan muda usia. Plus, kaum terpelajar. Kaum cerdik pandai, dalam tatanan adat.

Karena itu, dalam kapasitas sebagai Wakil Koordinator Bappilu DPP Partai Golkar untuk seluruh Provinsi Sumatera Barat, saya lebih berjarak. Jauh lebih banyak yang tidak saya temui, ketimbang memilih bertemu dan bertatap muka. Saya tahu betul arti sebuah pertemuan dalam ranah persepsi politik di ranah Minang. Alasan yang sangat kuat, detil, dan tentu tak umum, patut saya teguhkan dulu dalam pikiran, perasaan, dan sikap mental. Nah, dari 13 pilkada tingkat kabupaten dan kota di Sumbar itu, DPP Partai Golkar dengan segera memutuskan tiga daerah.

Tentu ukuran utama adalah Partai Golkar menjadi pemenang di daerah tersebut. Sepuluh daerah lagi, perlu kesabaran dan kesadaran dalam membangun koalisi. Ilmu aritmetika lebih utama berada di balik tempurung kepala, ketimbang ilmu sempoa, apalagi bisikan alam gaib. Sebagai veteran yang terjun langsung dalam pemilihan calon anggota DPR RI (2009) dan walikota Pariaman (2013), tentu saya ikuti seluruh nuansa mikro hingga sebiji zarrah sekalipun. Dalam kapasitas manager kampanye atau sosok pendukung, saya sudah terlibat sejak keliling Sumbar mengantarkan Jeffrie Geovanie sebagai Calon Gubernur Sumbar 2005.

Terakhir, saya mengerahkan relawan Alang Babega dan Sirangkak dalam pengumpulan jumlah tim pemenangan terbesar yang pernah dilakukan di Gedung Saiyo Sakato, dalam pemilihan walikota dan wakil walikota Pariaman 2018. Tentu pengalaman di luar Sumbar lebih banyak, termasuk di Jambi dan Riau, walau sebagian dalam kapasitas sebagai konsultan pemenangan. Terjun dalam proses pemilihan lain di luar itu? Ya sejak taman kanak-kanak. Mau tunjuk tangan menjawab pertanyaan guru, ketua kelas, komandan upacara, atau organisasi pelajar lain, adalah punden berundak lapis demi lapis demokrasi dalam lingkup pendidikan dan alam Minangkabau. Di usia 16 tahun, saya juga pernah ikut pemilihan Cik Uniang dan Cik Ajo (semacam Abang None di Jakarta) Kota Pariaman. Lumayan, saya menjadi runner up, alias nomor dua terganteng se Kota Pariaman, dibanding Ekky dari Jurusan Biologi SMA 2 Pariaman. Dalam proses itulah saya mengenal Tri Suryadi atau lebih dikenal sebagai Wali Feri. Yang bersikeras memperkenalkan adalah Ajo Badai, kakak dan sekaligus pengawal saya yang paling setia.

Ajo Badai sengaja dipasang oleh paman kandung saya, adik dari ibu saya, Mamanda Yan Bachtiar. Tentu segala jurus silat dikuasai oleh Ajo Badai, termasuk ilmu yang tak terlihat mata. Ajo Badai sudah “mengawal” saja sejak kecil di Mentawai. Tak sepicing kedipan mata pun ia bisa lepas dari saya. Kehadiran Ajo Badai tentu sangat mengganggu soliditas tim yang saya bentuk. Mayoritas mereka adalah anak-anak muda lulusan Universitas Andalas dan Universitas Negeri Padang, terutama dari basis Himpunan Mahasiswa Islam.

Tak semua hal saya bisa ungkap, dalam pergumulan politik yang tentu — ikut — berbasis kaum di ranah Minang. Dari Ajo Badai saya mengenal Wali Feri di Kenagarian Pilubang. Bahkan, bisa jadi Wali Feri waktu itu belum terpilih menjadi Wali Nagari Pilubang. Ia baru menjadi Wali Korong tempat Ajo Badai tinggal. Pertemuan dengan Wali Feri sangat terasa hangat dan akrab. Ternyata Wali Feri ini bernama asli Tri Suryadi, alumni SMA 2 Pariaman Angkatan 1992. Setahun di bawah saya. Ia kelahiran 31 Juli 1973 di Bangkinang, Riau. Seingat saya, siswa paling populer dari Angkatan 1992 adalah Rudi Anton. Saya banyak berkomunikasi dengan Rudi yang sempat merantau di Jakarta. Dan seperti batang pisang tumbuh di lahan yang gembur, Wali Peri menggebubu terus dan terus. Dari Wali Korong menjadi Wali Nagari. Terus dari Wali Nagari menjadi anggota DPRD Kab Padang Pariaman 2014-2019.

Baca Juga :   Warga Desa Sponjen Tagih Janji Kadis PUPR Prov Jambi

Baik dalam proses calon anggota DPR RI 2009 atau maju sebagai Calon Walikota Paeriaman 2013, saya tahu betul bagaimana Wali Feri menghimpun suara untuk saya. Daya jelajah Wali Feri jauh. Tapi satu yang tak ia lupa, sejauh-jauhnya menjelajah sejak pagi hingga sore, ia tetap kembali ke basis, yakni Kenagarian Pilubang. Tempat saya pun singgah, dalam perjalanan kemanapun. Kalau tak bertemu di lapau mamak saya di simpang Pilubang, tentu tempat rendezvous dipindah ke Pasir Baru, area Tempat Pelelangan Ikan.

Sebelum pemilu 2014, saya sempat menyampaikan kepada sejumlah kawan, termasuk Uncu Muhardi, agar bergabung dengan Partai Gerindra yang lagi butuh kader. Rudi Anton, Fitra Yandi, bahkan Ahmad Fahmi — Panglimo Relawan Alang Babega — sudah saya rekrut masuk Partai Golkar. Walau, saya tidak ikut sebagai calon apapun, namun skema pengisian calon anggota DPRD ikut sya pengaruhi di Kota Pariaman dan Kabupaten Padang Pariaman. Hasil yang dicapai, Partai Golkar unggul di Kota Pariaman — kota kelahiran saya dan tempat saya menyelesaikan pendidikan SMA — dan Kabupaten Padang Pariaman — asal ibu saya, aliah induak benih –.

Walau menjadi anggota DPRD dari Partai Gerindra, sama sekali tak ada jarak antara saya dengan Wali Feri. Di basis-basis suara saya, ia memasang spanduk dan baliho dalam ukuran besar. Bahkan, ia seperti tahu di lapau mana saya duduk ketika pulang kampung. Terbukti, walau sibuk sebagai Ketua Umum atau Panglima Komando Operasi Strategi Sang Gerilyawan Jokowi dalam Pemilihan Presiden 2019, saya sempat pulang kampung untuk aqeqah keponakan.

Di lapau terakhir sebelum menyeberangi selokan (bandar) menuju rumah masa kecil saya di Sawah Kasiak, terpampang spanduk Wali Feri. Saya ikut bagikan dalam media sosial saya. Pun ketika para tamu sudah pulang sebagian besar, Wali Feri datang malam hari.Saya ikut menemani makan. Hubungan kakak — adik yang sulit diukur secara material. Setiap dia tahu saya pulang, kakinya langsung mengarah ke tempat saya sedang istirahat bersama alam, rumah masa kecil. Jadi, tidak heran kalau Wali Feri seperti “mencium” keberadaan saya di lokasi yang sudah lebih setahun saya tempat. Griya Kemayoran.

Labirin jalanan yang bisa menyesatkan siapapun. Ia datang sendirian, setelah sehari sebelumnya menelepon saya. Rupanya, ia sudah tiga hari berada di Jakarta dan terus menelepon saya. Berhubung nomor teleponnya tidak saya kenal, saya tak angkat. Syahrul Datuk Lung, Ketua DPD Partai Golkar Padang Pariaman yang “menyambungkan” saya dengan Wali Feri. “Bang, angkat telepon itu. Itu dari Wali Feri. Sudah tiga hari dia mencari Abang di Jakarta,” begitu kata Syahrul Datuk Lung.

Baca Juga :   DPW Provinsi Riau Partai Nasdem Rekomendasikan Ke DPP Pasangan MAJU 

Saya angkat. Kami janjian.  Besoknya, tak lama, dia datang. Sendirian. Dalam protokol COVID 19. Tanggal 27 Juni 2020 lalu. Kami berdiskusi. Bertukar pikiran. Tiap saat, dia melapor perkembangan. Termasuk ketika ia memutuskan Andah Taslim sebagai Calon Wakil Bupati. Sejak awal saya sudah menjodohkan dengan Syahrul Datuk Lung. Dari kedua pihak saya dapat alasan-alasan objektif. Walau saya kenal Andah Taslim, berhubung Andah ini adalah tokoh yang militan mendukung saya dalam Pilwako Pariaman — bahkan dia sering datang ke posko –, tapi saya sempat memberi pandangan subjektif. “Bukannya Andah Taslim berasal dari Pakandangan? Itu nagari asal Suhatri Bur, Wakil Bupati yang juga hendak maju sebagai Calon Bupati.

Apa kata orang nanti, kalau Wali Feri ‘memecah’ orang senagarai?” kata saya. Jawaban Wali Feri memuaskan saya. Tentu, tak patut disebut di sini. Dalam pertemuan berdua itu, kami berforo di depan ‘duplikat’ foto almarhum ayahanda saya, Boestami Datuk Nan Sati. Bandana alias penutup kepala yang saya dapatkan dari Sultan Buton, ketika menghadiri Festival Budaya Buton bersama Gubernur Sulawesi Tenggara, Halim Kalla, para bupati, para walikota, dan perwakilan kementerian, langsung saya berikan kepada Wali Feri. “Bandana yang diberikan Sultan Buton kepada saya, sudah saya hijrahkan kepada adinda Wali Feri.

Tentu untuk ditangkupkan di Kabupaten Padang Pariaman. Pun sebagai berita dari Ketua Umum SMA 2 Pariaman bahwa Wali Feri masih ingat IJP adalah kakak pembina pramukanya dulu. #KoqSungaiKaBalauakBaliak”, begitu saya tulis dalam status facebook. Unggahan itu saya tulis setelah membaca apa yang ditulis Wali Feri dalam status facebooknya: “Semua yang akan tumbuh tergantung bagaimana kita merawatnya. Indra Jaya Piliang (IJP) merupakan pelatih pramuka dan senior saya di SMA 2 Pariaman. Dia terus tumbuh menjadi salah satu pemuda menginspirasi dengan kemampuan yang luar biasa.

Beliau mampu tumbuh di tengah persaingan elit kota Jakarta, tanpa melihat batas seorang ‘anak kampung’ yang sulit untuk beretorika. Hari ini kami coba untuk saling merangkai, bahwa ‘anak kampung’ bisa bicara untuk saling membesarkan dan bisa memberikan dampak untuk orang banyak,” tulis Wali Feri dalam akun Tri Suryadi yang baru saya ikuti. Usai itu, saya hanya berkomunikasi via telepon. Termasuk mengikuti keberhasilan Wali Feri menyelesaikan studi magister (Strata Dua) di Jurusan Sosiologi Universitas Andalas sebulan kemudian. Sudah satu level dengan saya, berhubung studi doktoral saya tersendat di Fakultas Ilmu Administrasi Universitas Indonesia.

Jika saya menamatkan magister Ilmu Komunikasi di FISIP UI tahun 2008, butuh waktu dua belas tahun bagi Wali Feri untuk “mengejar” senior dan sekaligus Pembina pramukanya ini. Walau, usia kami hanya berjarak satu tahun. Dengan satu lagi lulusan Magister alumni SMA 2 Pariaman, optimisme saya tentu naik, agar Universitas Pariaman bisa diwujudkan. Minimal, saya dan Wali Feri sudah bisa menjadi dosen tak tetap, guna mendapatkan akreditasi. Belum lagi sejumlah alumni SMA 2 Pariaman lainnya.   Sebelum COVID 19, saya sudah berencana untuk menggelar Musyawarah Besar Alumni SMA 2 Pariaman. Bagaimana tidak, sudah tujuh tahun saya menjadi Ketua Umum (2013-2020). Rudi Anton — yang kini menjadi politisi Partai Amanat Nasional — adalah Sekretaris Jenderalnya. Saya sudah menunjuk mantan Ketua Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Kota Pariaman sebagai Ketua Organizing Committee. Sebagai proses “peralihan generasi”, bahkan saya sudah siapkan satu lembaga berbentuk Yayasan (juga perusahaan) guna menampung pengurus-pengurus lama. “Genggaman” Angkatan 1991 terhadap jejaring alumni SMA 2 Pariaman sudah terlalu lama. Dr Genius Umar, Walikota Pariaman kini, juga berasal dari Angkatan 91, sejak kelas dua sampai kelas tiga di Jurusan Fisika sekelas dengan saya.

Baca Juga :   Sekretaris Umum Badko HMI: Staf Khusus Milenial Presiden, Melanggar Etika Birokrasi

Tuhan memang punya cara yang luar biasa, namun indah, dalam membantu kami mengurai sejumlah masalah yang terkait dengan banyak hal. Wali Feri berada dalam mata rantai yang membantu kekusutan di sejumlah masalah itu. Bukan saja saya bisa memberi “beban” kepada binaan saya ini, misalnya dalam mewujudkan Musyawarah Besar Alumni SMA 2 Pariaman, tapi ia pun sudah mengambil sejumlah beban politik di pundak saya.

Dengan kerja keras dan trengginasnya, Wali Feri sudah mendapatkan dukungan dari DPP Partai Demokrat dan DPP PKB. Tak ada alasan lagi bagi DPP Partai Golkar untuk berpaling. Wali Feri tahu, bisa saja ia menang ‘hanya’ dengan dukungan Partai Demokrat dan PKB. Tapi, bagaimana ia nanti berhadapan dengan politisi Partai Golkar, baik yang duduk di legislatif, apalagi yang tidak duduk dan menjadi senior. Walau akar tunjang beringin terlihat meranggas kini, tapi lapisan terkuat politisi yang aktif dan berukuran senior, berasal dari Partai Golkar. Mau menyebut John K Azis di DPR RI, Leonardi Dt Bandaro Basa di DPD RI, Dr Harry Azhar Azis di BPK RI, dan tentu lebih dari selusin nama lain.

Bahkan, dua sosok lagi bisa saya “asung”, yakni Andi Achmad Dara, anggota DPR RI yang merupakan penghulu kaum Piliang di Kabupaten Agam. Dan Arsyad Juliandi Rachman, mantan Gubernur Riau — kebetulan Wali Feri lahir di Bangkinang, Riau — yang kini di DPR RI, pun bersuku Piliang. Dua nama yang jika diminta, bakal cepat kaki ringan tangan dalam urusan Padang Pariaman.  Tentu, Wali Feri telah lebih dulu berkorban, yakni tak lagi mendayung di dalam partai yang sudah membesarkan — plus dibesarkan juga oleh Wali Feri — Ia sudah memilih.

Dengan semangat Praja Muda Karana. Juga nama, yakni Tiga Matahari di tiga galaksi. Anak kedelapan dari sembilan saudara, dalam perhitungan fengshui sungguhlah kuat sekali. Tinggal, satu mitos lagi yang ia wajib pecahkan, yakni nama Suryadi itu sendiri. Bagaimana tidak, Surya Suryadi adalah alumnus SMA 2 Pariaman yang paling mentereng. Dosen di Universitas Leiden, penulis yang entah bagaimana bisa menulis setiap hari. Kuncen dari beragam arsip era kolonial. Tulisan Ajo Suryadi — Dealova — yang membuat Sekolah Beruk terkenal di seluruh penjuru dunia. Foto yang didapatkan Ajo Suryadi yang menulis “Syair Sunur” ini begitu viral. Suryadi Sunuri adalah nama lain dalam tulisan-tulisannya, bukti ia putra asal pesisir Sunur yang merupakan tanah santri bagi sejumlah ulama dan syech besar. Tri Suryadi Pilubang, hilir dari sungai yang mengalir dari Gunung Tandikat dan Gunung Singgalang. Saya lebih di hulu, tapi Batang Naras yang terus menuju Jembatan Latiang.

Baik kalah atau menang, jiwa sebagai penjelajah, penjaga basis, setia dengan sumpah Praja Muda Karana, adalah jejak-jejak yang tak bisa dihapus begitu saja dari seorang Wali Feri. Dan mohon bagi pembaca di Tanah Jawa, Wali Feri tentu bukan dalam pengertian Wali di kalangan ulama. Wali, dalam kamus kami, adalah pemimpin yang didahulukan selangkah, ditinggikan seranting, tapi bertanggungjawab dunia akhirat pada langkah dan ranting itu…

Komentar

Berita Lainnya