oleh

Ketika Ansar Ahmad Diserang Para “Hatters”

Saat Ansar Ahmad pertama kali menyatakan sikapnya untuk maju dalam pemilihan Gubernur Provinsi Kepulauan Riau (Kepri), berbagai sambutan mewarnai masyarakat.

Ada yang menaruh harapan besar tentang mantan Bupati Bintan dua periode ini yang akan membawa Kepri menjadi daerah yang maju. Ada yang tetap meminta Ansar Ahmad tetap di kursi DPR-RI, karena mereka merasakan, meski belum seumur jagung, namun Ansar sudah banyak memperjuangkan masyarakat Kepri ke pusat.

Melalui program bedah rumah, Program Infrastruktur Sosial Ekonomi Wilayah (PISEW), dan program infrastruktur daerah perjuangan Ansar sebagai anggota DPR-RI sudah sangat dirasakan.

“Bahkan boleh dikatakan baru kali ini kita merasakan Kepri memiliki wakil kita di Senayan. Belum lagi setahun di DPR-RI tetapi bukti perjuangannya bagi masyarakat bisa kita rasakan dengan nyata,” kata salah seorang masyarakat.

Meski begitu, ada juga kalangan pembenci yang terus menilai negatif apa yang dilakukan Ansar Ahmad. Sebaik apa pun yang dilakukan Ansar, di mata mereka tetap salah.

Kalangan pembenci yang bahasa milenialnya para “hatters” ini tetap terus mencari celah dan jalan bagaimana menjatuhkan serta mendiskreditkan Calon Gubernur Provinsi Kepri nomor urut 3 ini dengan berbagai argumen yang kadang ngawur, tanpa data dan asal ngomong.

Baca Juga :   Satpol PP Tanjungpinang Sayangkan Surat Rahasianya Beredar

Baginya, hidup adalah kebencian yang absolut. Tidak ada setitik pun kebaikan di Ansar Ahmad. Sehingga dia terus memproduksi kebencian dengan berbagai tagline yang sifatnya sindiran, tuduhan dan fitnah keji yang ditujukan ke lelaki murah senyum, penyabar dan rendah hati ini.

Dan gerakan para “pembenci” ini bisa kita rasakan dan lihat di medsos-medsos yang mereka mainkan secara masif, sistematis dan terstruktur. Mereka terus mencoba membangun opini publik yang murahan dengan standart kualitas rendah yang dia publish ke media dan medsos.

Siapa sih mereka para hatters ini? Apakah ada impossible hand yang menggerakkan?  Entahlah. Tapi saya yakin waktu yang akan membuktikan. Karena kebenaran meski tersimpan di perut bumi suatu saat pasti akan terungkap.

Tapi satu hal yang saya sangat salut dan tetap mengagumi seorang Ansar Ahmad, meski diborbardir oleh para hatters dia tetap tenang dan tersenyum.

Baca Juga :   Musrenbang Bintan Tahun 2020, Apri: Harus Dilakukan Efisiensi

Dia tetap keluar masuk pulau, turun naik pelantar dan dermaga rakyat dan tidak henti bersilaturahmi serta menyapa masyarakat. Dia tetap bekerja. Dia tetap kedepankan jiwa pemaafnya. Dia memperpendek jarak dengan siapa pun. Dia dengan tulus dan penuh kerendahan hati selalu menerima nasehat, tunjuk ajar dan saran dari  orang-orang yang menyayanginya.

Baginya terlalu naif kebencian dibalas dengan kebencian. Dendam dibalas dengan darah dan tajamnya senjata. Baginya kebencian hanya bisa diluruhkan dengan sikap rendah hati, sabar dan pemaaf. Karena kerasnya batu hanya perlu tetesan air yang terus menerus untuk bisa merubahnya jadi pasir yang lembut.

Lelaki yang tergolong pekerja keras ini dan memang dari awal sangat mencintai kehidupan dunia yang diwarnai semangat kebersamaan dan kekeluargaan, sangat menghindari sesuatu yang menimbulkan perselisihan dan permusuhan.

Karena itu, gagasan pembaruan-pembaruan yang sifatnya menyatukan selalu meluncur bagaikan arus deras yang kebaikannya langsung dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.

Baca Juga :   Sempena Hari Bhayangkara ke-74, di Polres Tanjungpinang Segala Pengurusan dan Pengaduan Wajib "Rapid Test

Perjalanan hidup laki-laki yang sudah yatim dari kecil ini tidak semanis yang kita bayangkan. Dari kecil hingga menikah, Ansar hidup dalam ekonomi yang sulit.

Di tengah situasi seperti itu, jiwa Ansar Ahmad termotivasi untuk memberi kebaikan pada semua orang. Ansar dari kecil hingga dewasa tidak pernah terlibat perkelahian.

Jiwa sabar dan mengalahnya begitu besar sehingga karena sikapnya itu terkadang memancing emosi orang-orang dekatnya ketika dia diserang oleh lawan politik, dia memilih diam dan memaafkan.

“Dalam politik itu kita tidak boleh terlalu baik. Habis nanti kita,” begitu orang-orang dekatnya mengingatkan.

Tetapi memang jiwa besarnya tidak bisa dipengaruhi. Dia tetap seorang Ansar Ahmad. Seorang lelaki yang ketika diserang tetap tersenyum dan memberinya maaf. Lelaki yang kalau mampir di kedai kopi dia bayari semua orang yang hadir di kedai kopi itu termasuk para hatters itu.

Masih ingin kau tabur lagi kebencian dan dendam padanya? Ah, saya yakin dirimu kurang ngopi tuh wai…😊😊😊

Komentar

Berita Lainnya