oleh

Menhub : Pemerintah Beri Kesempatan BUMD Gandeng Investor Untuk Garap Malarko

Karimun (Kepri), cMczone.com – Menteri Perhubungan (Menhub) Budi Karya Sumadi mengatakan, bahwa pemerintah memberi kesempatan kepada Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) untuk menggandeng investor dalam menggarap kelanjutan pembangunan Pelabuhan Malarko. Soal Pelabuhan Malarko nantinya akan dikerjasamakan pengelolaanya dengan BUMD dan swasta.

“Kita kasih kesempatan pada BUMD Kepri dan Karimun untuk menggandeng investor dalam kerja sama pembangunan dan pengelolaan Pelabuhan Peti Kemas Malarko,” ujar Budi pada wartawan, ketika meninjau Pelabuhan Malarko Kabupaten Karimun, Sabtu (1/5/2021).

Menurut Budi, biaya pembangunan Pelabuhan Malarko adalah biaya sharing antara Pemerintah Pusat dan Daerah dengan keterlibatan swasta. Dan diharapkan dapat rampung pada akhir tahun 2021 mendatang.

“Pelabuhan Malarko akan dijadikan Pelabuhan Samudera atau pelabuhan yang dapat disinggahi kapal-kapal besar, yang memiliki fasilitas lengkap untuk tempat bongkar muat barang serta ekspor dan impor dan dilengkapi dengan gudang,” katanya,” kata Budi.

Perlu diketahui, bahwa Pelabuhan Malarko yang terletak di Desa Pongkar, Kecamatan Tebing, Kabupaten Karimun ini merupakan wilayah kerja (Wilker) dari Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas pelabuhan (KSOP) Kelas 1 Tanjung Balai Karimun ini sudah dibuat dari tahun 2008 sampai dengan 2013 lalu.

Baca Juga :   Lahan 2 Hektar Terbakar, DPKP Dibantu Warga Padamkan si Jago Merah

Kelanjutan pembangunannya sempat dihentikan oleh Inspektorat, karena ada temuan yang tidak sesuai. Semangat membangun daerah terluar Indonesia ini yang membuat pelabuhan itu akan kembali dibangun, termasuk rencana pengembangan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) dan Kawasan Ship To Ship, yaitu lokasi perairan yang ditetapkan dan berfungsi sebagai pelabuhan yang digunakan untuk kegiatan alih muat antar kapal.

Gubernur Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) Ansar Ahmad, yang mendampingi Menhub dalam kesempatan yang sama mengatakan, bahwa Pelabuhan Malarko merupakan pelabuhan peti kemas di Kabupaten Karimun, Provinsi Kepri.

Posisinya berada di bagian tenggara dari pulau Karimun dan secara keseluruhan merupakan bagian dari wilayah pelabuhan dan perdagangan bebas BBK (Batam-Bintan-Karimun).

Baca Juga :   Danlantamal IV Bacakan Pembukaan Taklimat Awal Wasrik Itjen Kemenhan Tahun 2020

“Pelabuhan Malarko berada pada jalur perdagangan internasional dan berbatasan langsung dengan negara Singapura dan Malaysia. Pada kawasan BBK ini berlaku pembebasan pajak dan bea cukai dalam rangka menggenjot pertumbuhan ekonomi dan investasi di Karimun dan sekitarnya,” jelas Ansar.

Menurut Ansar, diproyeksikan throughput peti kemas per tahun Pelabuhan Malarko sebesar 400 ribu teus. Saat ini Pelabuhan Malarko sudah membangun Causeway sepanjang 800×6 m2, Dermaga 110 x 10 m2 dan fasilitas lainnya.

“Diperkirakan total investasi dalam proyek pembangunan pelabuhan Malarko sebesar Rp.200 Miliar,” ungkap Ansar.

Pembangunan Pelabuhan Malarko sebenarnya telah di mulai sejak tahun 2008. Namun dalam empat tahun pengerjaannya, proyek yang menyerap dana Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN) ini harus terhenti karena tersandung persoalan hukum pada tahun 2012 lalu.

Pemerintah Pusat telah menggelontorkan dana di tahap awal sebesar Rp. 27,105 miliar. Kemudian pada tahap dua Pemerintah Pusat kembali mendanai kontrak paket Supervisi sebesar Rp. 476,4 juta. Kemudian, April 2010 lalu kembali dilakukan lelang paket pengadaan jasa Konsultansi Supervisi lanjutan terhadap fasilitas Pelabuhan Laut Malarko dengan pagu anggaran Rp.450 juta.

Baca Juga :   Fasharkan Mentigi Gelar Turnamen Tenis Meja "Fasharkan Cup 2020"

Di tahun yang sama, kembali mengumumkan pengadaan jasa borongan dengan pagu Rp.19,5 miliar. Selanjutnya, pada Maret 2011 kembali dilakukan lelang pengadaan barang dan jasa kategori umum dengan sistem pasca kualifikasi jasa konstruksi bidang sipil, sub bidang dermaga dan perawatan dengan pagu sebesar Rp.33 miliar, kemudian pekerjaan supervisi lanjutan pembangunan fasilitas Pelabuhan Laut Malarko dengan pagu Rp.716 juta.

Pada tahun 2012 lalu di tahun akhir terhentinya proyek ini, aktivitas pengerjaan kembali dilakukan dengan anggaran sebesar Rp.860 juta. Di tahun yang sama, tahap pembangunan trastle Pemerintah Pusat kembali mengucurkan dana sebesar Rp.49 miliar.

Editor : Budi Adriansyah

Komentar

Berita Lainnya