Pemerintah dan pelaku UMKM Sumbar bersatu dorong rendang dan makanan tradisional jadi identitas ekspor Indonesia.
Padang – cMczone.com | Jumat, 7 November 2025
Sumatera Barat kembali menegaskan posisinya sebagai pusat kuliner nusantara. Pemerintah Provinsi bersama Asosiasi UMKM Kuliner Minang meluncurkan gerakan “Rendang Diplomasi”, sebuah inisiatif untuk mempromosikan rendang, dendeng balado, dan karupuak sanjai sebagai produk ekspor unggulan yang mengusung nilai budaya lokal.
Gubernur Sumbar, Mahyeldi Ansharullah, menyebut bahwa program ini tak sekadar soal ekonomi, tapi juga kebanggaan identitas.
“Rendang bukan hanya makanan, tapi diplomasi rasa dan marwah bangsa. Kita bawa nilai-nilai nagari ke meja makan dunia,” ujarnya di sela acara peluncuran di Padang Convention Center.
Program ini menggandeng Bea Cukai dan Kementerian Perdagangan untuk mempermudah izin ekspor produk olahan rumah tangga.
Selain itu, pelaku UMKM dibekali sertifikasi halal, kemasan internasional, serta pelatihan branding digital agar mampu bersaing di pasar luar negeri.
Salah satu pelaku usaha, Rosmawati (45), pemilik Rumah Rendang “Uni Ros”, mengaku kini produknya sudah sampai ke Singapura dan Qatar.
“Dulu cuma dijual di pasar Alai, sekarang sudah dikirim lewat e-commerce. Kami bawa cita rasa kampung ke luar negeri,” ujarnya.
Analisis Kontekstual:
Ekonomi kreatif berbasis kuliner kini menjadi salah satu penggerak utama pasca-pandemi di Sumatera Barat.
Selain meningkatkan pendapatan rumah tangga, ekspor kuliner tradisional juga memperkuat citra Indonesia sebagai bangsa yang kaya rasa dan budaya.
Namun, tantangan masih besar — mulai dari keterbatasan logistik hingga kesulitan sertifikasi untuk pasar ekspor Eropa.
Catatan Redaksi cMczone.com:
Rendang bukan sekadar makanan, ia adalah narasi identitas.
Ketika cita rasa Minang menembus batas negara, itu bukan hanya soal bisnis — tapi soal menjaga jati diri bangsa di meja global.







