Petani Riau Bangkit Lewat Pertanian Organik: Saat Kesadaran Hijau Menjadi Gerakan Ekonomi Baru

Di tengah mahalnya pupuk dan rusaknya kesuburan tanah, petani muda Riau memilih jalan baru: bertani organik. Mereka menanam bukan hanya untuk panen, tapi untuk menjaga bumi dan martabat negeri.

Kampar – cMczone.com | Sabtu, 8 November 2025

Pagi masih basah di Desa Lubuk Siam, Kecamatan Siak Hulu, Kabupaten Kampar. Di tengah hamparan sawah, beberapa petani muda sibuk menebar kompos alami yang baru mereka olah seminggu lalu.
Tak ada bau tajam pupuk kimia. Hanya aroma tanah dan dedaunan kering yang menandakan perubahan besar sedang terjadi.

Gerakan bertani organik kini menjalar ke berbagai daerah di Provinsi Riau — dari Kampar hingga Kuantan Singingi.
Langkah ini berawal dari keprihatinan akan mahalnya harga pupuk kimia, menurunnya hasil panen, dan semakin rusaknya tanah akibat pemakaian zat sintetis bertahun-tahun.

“Kami tidak lagi mau bergantung pada pupuk kimia. Tanah ini butuh istirahat. Kalau dirawat alami, hasilnya malah lebih sehat dan tahan lama,” kata Suryadi (32), ketua kelompok tani muda Tunas Hijau Riau, sambil tersenyum bangga menunjukkan padi organiknya yang mulai menguning.

Isi Lengkap (Kronologi, Data, Kutipan Pejabat & Masyarakat):

Baca Juga :   Lembah Harau : Ragam Wisata di Dalamnya, Bukik Soriak Glamping Kemah Dome

Gerakan pertanian organik di Riau mulai muncul sejak awal 2025, ketika sejumlah petani di Kabupaten Kampar dan Siak mengikuti pelatihan “Sekolah Lapang Pertanian Sehat” yang digagas oleh Dinas Pertanian Provinsi Riau bekerja sama dengan Universitas Riau (UNRI) dan lembaga lingkungan Riau Hijau Foundation.

Program ini menekankan konsep “tanam dengan hati, rawat dengan ilmu” — mengajarkan petani membuat pupuk cair dari fermentasi kotoran ternak, daun sirsak, dan kulit pisang, serta pestisida nabati berbasis serai dan tembakau.
Kini, sudah lebih dari 18 kelompok tani organik aktif di tiga kabupaten besar: Kampar, Siak, dan Kuantan Singingi.

Kepala Dinas Pertanian Riau, Ir. Sri Wahyuni, M.Si., mengatakan bahwa pemerintah daerah berkomitmen menjadikan pertanian organik sebagai strategi baru menjaga ketahanan pangan sekaligus pelestarian lingkungan.

“Kami mendorong petani muda untuk bangkit. Pupuk mahal bukan akhir, tapi awal perubahan menuju kemandirian pangan,” ujarnya kepada cMczone.com.

Selain itu, produk pertanian organik kini mulai menembus pasar modern di Pekanbaru dan Batam.
Beras organik Riau bahkan sudah masuk ke dua jaringan ritel nasional dengan harga jual mencapai Rp22.000 per kilogram, dua kali lipat dari harga beras konvensional.

Baca Juga :   Ekonomi Kepri Menguat, KPK Apresiasi Kerja Keras Ansar Ahmad

Rita Marlina (46), seorang petani perempuan di Kuantan Singingi, menceritakan pengalaman pribadinya.

“Awalnya kami ragu. Tapi setelah ikut pelatihan dan mencoba satu petak sawah, hasilnya malah lebih bagus. Sekarang kami sudah mandiri bikin pupuk sendiri.”

Namun, tantangan tetap ada. Proses sertifikasi produk organik nasional masih rumit dan memakan biaya hingga Rp15 juta per kelompok.
Pemerintah provinsi sedang mengkaji insentif pajak dan bantuan sertifikasi untuk mempercepat ekspansi pasar organik.

Analisis Kontekstual (Dampak Sosial, Ekonomi, dan Politik):

Gerakan pertanian organik di Riau bukan sekadar perubahan teknis bertani, tapi transformasi sosial yang berakar dari kesadaran ekologis rakyat.
Selama puluhan tahun, pertanian di Riau hanya dilihat sebagai sektor produksi, bukan ekosistem hidup yang berkelanjutan. Kini, petani muda menghadirkan wajah baru: bertani dengan ilmu, berbisnis dengan nurani.

Secara ekonomi, pertanian organik menciptakan nilai tambah signifikan. Petani kecil memperoleh pendapatan lebih stabil karena produk mereka bernilai tinggi di pasar.
Secara sosial, gerakan ini menghidupkan kembali gotong royong — pembuatan pupuk dilakukan bersama, berbagi ilmu, dan menjadikan desa sebagai pusat inovasi.
Sedangkan secara politik, pertanian organik memberi pesan moral kepada negara: rakyat mampu bangkit tanpa harus menunggu bantuan asing, asal diberi ruang dan kepercayaan.

Baca Juga :   Wisata Baru di Lembah Harau Payakumbuh, Bukan Harau Sky

Menurut ekonom lingkungan dari UNRI, Dr. M. Hanafiah, S.E., M.Si., kebijakan pemerintah daerah yang berpihak pada petani kecil adalah langkah strategis menjaga stabilitas pangan di tengah krisis global.

“Jika 20% petani di Riau beralih ke organik, kita tidak hanya mandiri pangan, tapi juga jadi pionir ekonomi hijau di Sumatera,” tegasnya.

Catatan Redaksi cMczone.com:

Gerakan ini menunjukkan bahwa perubahan besar tidak selalu lahir dari istana atau parlemen.
Kadang, perubahan itu tumbuh pelan dari sawah-sawah kecil yang basah oleh keringat dan harapan.
Petani Riau membuktikan bahwa keberanian menolak ketergantungan adalah bentuk tertinggi dari kedaulatan.

Negeri ini sering berbicara tentang “ekonomi hijau”, tapi jarang memberi ruang bagi akar rumput untuk memimpinnya.
Kini, rakyat membuktikan: keadilan sosial tidak butuh jargon — cukup tanah, air, dan kejujuran.
Dan dari situlah, cMczone.com percaya, bangsa ini sedang benar-benar belajar menjadi mandiri.