Transportasi berbasis rel diproyeksikan menghidupkan kembali dua kota sejarah di Ranah Minang.
Padang – cMczone.com | 20 November 2025
Proyek reaktivasi jalur kereta Padang–Bukittinggi resmi memasuki tahapan akhir perencanaan teknis. PT KAI bersama Kementerian Perhubungan telah menyelesaikan survei geoteknik, pemetaan trase, dan analisis AMDAL. Pembangunan konstruksi dijadwalkan dimulai pertengahan 2026.
Proyek ini menghidupkan kembali jalur bersejarah yang pernah aktif pada era kolonial tetapi berhenti beroperasi puluhan tahun akibat kerusakan jalur dan minimnya investasi transportasi rel. Jalur ini diyakini memiliki potensi ekonomi besar karena menghubungkan dua kota wisata utama: Padang dan Bukittinggi.
Gubernur Sumatra Barat menegaskan bahwa kehadiran kereta akan mengurangi beban lalu lintas di jalur Padang–Bukittinggi yang kini dikenal sebagai salah satu jalur paling padat di Sumatra Barat.
“Macet sudah menjadi normal baru. Dengan kereta, kita tidak hanya mengurangi macet, tapi membangun ekonomi baru,” ujarnya.
Kereta direncanakan memiliki 12 stasiun antara lain Lubuk Alung, Kayu Tanam, dan Padang Panjang. Pemerintah menargetkan perjalanan Padang–Bukittinggi bisa ditempuh hanya 1 jam 20 menit, jauh lebih cepat dibanding perjalanan darat yang bisa mencapai 3–4 jam pada musim libur.
Pelaku usaha pariwisata menyambut proyek ini dengan antusias. Mereka menilai transportasi rel akan meningkatkan jumlah wisatawan, terutama keluarga dan pelajar yang ingin menikmati keindahan Ranah Minang tanpa macet.
Sejumlah tantangan tetap ada, termasuk relokasi sebagian kecil warga yang tinggal di sepanjang jalur tua, serta penataan kawasan rawan longsor. Pemerintah menjanjikan kompensasi adil dan pembangunan pagar keamanan pada daerah berisiko.
Analisis Kontekstual
Jika berhasil, jalur kereta Padang–Bukittinggi akan menjadi simbol modernisasi Sumbar sekaligus menandai kebangkitan transportasi rel Sumatra. Ekosistem wisata, perdagangan, hingga kuliner setempat akan terdorong naik.
Catatan Redaksi cMczone.com
Transportasi bukan hanya soal perjalanan — melainkan hubungan antar-manusia dan penggerak roda ekonomi. Ranah Minang layak mendapat infrastruktur berkelas.







