Petani Riau Bangkit Lewat Pertanian Organik: Dari Sawah ke Pasar Modern Kesadaran hijau tumbuh di tanah subur Riau. Di tengah mahalnya pupuk dan tekanan ekonomi, petani muda memilih bertani alami — menanam harapan baru di tanah sendiri.

Pagi itu, udara di Desa Lubuk Siam, Kabupaten Kampar, masih terasa lembap ketika sejumlah petani muda mulai menebar pupuk kompos di sawah mereka.
Tak ada bau kimia, hanya aroma dedaunan busuk yang menandakan lahirnya gaya bertani baru — pertanian organik.

Gerakan ini muncul dari keresahan sederhana: harga pupuk yang terus naik dan tanah yang makin tak subur.
“Kalau terus pakai pupuk kimia, tanah makin keras. Kami mau hasil panen sehat, bukan hanya banyak,” kata Suryadi (32), ketua kelompok tani Tunas Hijau Riau.

Kini, hasil padi dan sayur organik dari Kampar, Siak, dan Kuantan Singingi mulai masuk ke pasar modern Pekanbaru dan Batam. Pemerintah Provinsi Riau pun turun tangan lewat pelatihan pembuatan pupuk alami, kerja sama dengan Universitas Riau, dan dukungan modal kecil bagi kelompok tani.

Baca Juga :   Promo | Berkah Ramadhan, Nikmati Cicilan Heboh Sepeda Motor Yahama Tipe Ini

Kepala Dinas Pertanian Riau, Ir. Sri Wahyuni, M.Si., menegaskan:

“Gerakan ini adalah masa depan pangan kita. Petani harus mandiri, tanah harus kembali hidup.”

Pertanian organik tidak hanya menghasilkan beras sehat, tapi juga semangat baru di kalangan anak muda desa. Dari sawah kecil yang subur, tumbuh kesadaran besar: kemandirian ekonomi dimulai dari bumi yang dirawat.

Catatan Redaksi cMczone.com:
Perubahan sejati tidak datang dari rapat di gedung tinggi, tapi dari peluh rakyat kecil di tanahnya sendiri. Petani Riau sedang mengajarkan kita: kedaulatan pangan lahir dari keberanian mencintai bumi, bukan mengurasnya.