Dari Pisang Kepok menjadi Tepung: Tim Ekspedisi Patriot IPB Kaji Potensi Hilirisasi di Kawasan Transmigrasi Padang Tarok SP 1, KT Muaro Takung – Kamang Baru

cMczone.com- Tim Ekspedisi Patriot Institut Pertanian Bogor (IPB) mengkaji potensi pisang kepok sebagai komoditas bernilai tambah di kawasan transmigrasi Padang Tarok SP 1, KT Muaro Takung – Kamang Baru, Kabupaten Sijunjung, Sumatera Barat. Sejak 6 Agustus 2026, tim melakukan observasi lahan, wawancara dengan masyarakat transmigran selaku petani pisang kepok, serta research and development (R&D) pengolahan pisang kepok menjadi tepung pisang.

Kegiatan ini dilakukan oleh Muh. Asharuddin, Argunia Cristal Kurni, A. Nur Fajar Oktaviani, Sinta Naria Suryani, dan Afrisse Nur Hakim Al Fadil sebagai bagian dari upaya Tim Ekspedisi Patriot IPB dalam mendorong hilirisasi dan peningkatan nilai tambah komoditas lokal masyarakat transmigran

Kegiatan diawali dengan observasi langsung ke lahan milik masyarakat transmigran untuk melihat kondisi, ketersediaan bahan baku, serta potensi pengembangan pisang kepok di kawasan tersebut. Tim kemudian melakukan wawancara untuk mendapatkan gambaran mengenai produksi, pemasaran, pemanfaatan hasil panen, hingga kendala yang mereka hadapi. Observasi kemudian dilanjutkan dengan wawancara bersama sejumlah petani untuk menggali informasi mengenai produksi, pemasaran, harga jual, hingga berbagai kendala yang dihadapi masyarakat dalam mengembangkan komoditas pisang kepok.

Berdasarkan hasil pengamatan awal, pisang kepok merupakan salah satu komoditas yang cukup banyak ditemukan di kawasan transmigrasi Padang Tarok SP 1, disamping komoditas sawit sebagai komoditas unggulan di Kawasan Transmigrasi Muaro Takung – Kamang Baru. Namun, pemanfaatan pisang kepok hingga saat ini masih didominasi oleh penjualan dalam bentuk segar kepada tengkulak dengan harga rata-rata sekitar Rp5.000 per sisir.  Sementara itu, berdasarkan keterangan masyarakat, harga pisang yang dipasarkan ke luar kawasan dapat mencapai sekitar Rp15.000 per sisir. Perbedaan harga tersebut menunjukkan adanya peluang peningkatan nilai ekonomi melalui penguatan pemasaran maupun pengolahan pascapanen.

Baca Juga :   Plang Larangan Memutar, Jalan Prof. M. Yamin, Bangkinang Kota Diduga Hanya Sebagai Simbol

Selain persoalan harga, akses transportasi menjadi salah satu kendala utama dalam pemasaran hasil pertanian masyarakat Padang Tarok SP 1. Kondisi jalan yang sulit dilalui, terutama ketika hujan, membuat petani kesulitan membawa hasil panen keluar kawasan. Akibatnya, sebagian pisang yang telah memasuki masa panen tidak selalu dapat dipasarkan.

Kondisi tersebut salah satunya dipengaruhi oleh keterbatasan akses transportasi dari kawasan Padang Tarok SP 1 menuju pusat kecamatan. Keterbatasan akses membuat petani menghadapi kendala dalam membawa hasil panen ke pasar yang lebih luas sehingga sebagian besar hasil produksi masih bergantung pada tengkulak.

Salah seorang petani pisang kepok, Bapak P, Selaku KUPT disana , menyampaikan bahwa ketersediaan pisang di kawasan tersebut cukup melimpah sehingga memiliki peluang untuk dikembangkan menjadi produk olahan.

“Kalau di sini pisang cukup banyak. Selama ini kebanyakan dijual begitu saja, belum banyak yang diolah. Kalau bisa diolah menjadi produk lain, tentu akan lebih bagus karena nilai jualnya bisa meningkat dan hasilnya juga bisa lebih menguntungkan bagi masyarakat,” ujar Bapak P, Selaku Kupt Padang Tarok SP 1

Baca Juga :   Diduga Telantarkan Pasien Patah Tangan, DPRD Pekanbaru Minta Plt Direktur RSD Madani Dicopot.

Melihat kondisi tersebut, Tim Ekspedisi Patriot IPB tidak hanya melakukan pemetaan potensi, tetapi mulai melakukan research and development (R&D) untuk mengkaji pengolahan pisang kepok menjadi tepung pisang. Pengembangan tepung menjadi salah satu alternatif hilirisasi karena dapat memperpanjang umur simpan komoditas, mempermudah distribusi, serta membuka peluang pemanfaatan pisang sebagai bahan baku berbagai produk pangan.

Proses R&D dilakukan secara bertahap dengan mempertimbangkan karakteristik pisang kepok yang tersedia di kawasan, potensi bahan baku, proses pengolahan, serta peluang pengembangan produk yang dapat diterapkan oleh masyarakat. Kajian tersebut diharapkan dapat menghasilkan formulasi dan metode pengolahan yang sederhana, efisien, serta memungkinkan untuk diterapkan pada skala masyarakat.

Muh. Asharuddin selaku Koordinator Lapangan Tim Ekspedisi Patriot IPB menjelaskan bahwa R&D tersebut menjadi bagian dari tahapan awal sebelum pelaksanaan kegiatan pemberdayaan dan pelatihan kepada masyarakat.

“Kami memulai dari observasi dan wawancara terlebih dahulu untuk memahami kondisi di lapangan, termasuk bagaimana ketersediaan pisang, pola pemasaran, harga jual, dan kendala yang dihadapi petani. Dari situ kami melihat bahwa pisang kepok memiliki potensi untuk dikembangkan lebih lanjut, salah satunya menjadi tepung pisang,” jelasnya.

Argunia Cristal Kurni menambahkan bahwa tim sengaja melakukan R&D terlebih dahulu agar materi dan teknologi yang nantinya diberikan kepada masyarakat melalui kegiatan pelatihan benar-benar sesuai dengan kondisi kawasan.

Baca Juga :   Polda Riau Tangkap Pengusaha Kayu di Duga Ilegal Loging

“Harapannya nanti bukan hanya memberikan pelatihan, tetapi kami sudah memiliki hasil uji dan metode yang dapat dipraktikkan oleh masyarakat. Jadi, ketika pelatihan dilaksanakan, masyarakat tidak hanya mendapatkan teori, tetapi juga dapat langsung belajar mengolah pisang kepok menjadi produk yang memiliki nilai tambah,” ungka Argunia.

Pengembangan tepung pisang kepok juga menjadi bagian dari upaya Tim Ekspedisi Patriot IPB dalam mendorong diversifikasi ekonomi masyarakat kawasan transmigrasi. Selama ini, kelapa sawit menjadi salah satu komoditas utama masyarakat, sementara pisang kepok berpotensi menjadi sumber pendapatan tambahan apabila dikelola melalui pendekatan hilirisasi.

Ke depan, Tim Ekspedisi Patriot IPB berencana melanjutkan kajian terhadap aspek teknis, ekonomi, dan potensi pasar produk tepung pisang kepok. Hasil R&D tersebut diharapkan menjadi dasar untuk penyusunan materi pelatihan pengolahan bagi masyarakat transmigran di Padang Tarok SP 1.

Melalui rangkaian observasi, wawancara, R&D, hingga rencana pelatihan, Tim Ekspedisi Patriot IPB berharap pisang kepok tidak lagi hanya dipandang sebagai komoditas yang dijual dalam bentuk segar, tetapi dapat dikembangkan menjadi produk olahan bernilai tambah. Dengan demikian, potensi komoditas lokal di kawasan transmigrasi dapat memberikan kontribusi lebih besar terhadap peningkatan pendapatan dan kemandirian ekonomi masyarakat.(*)