oleh

Jarak Diantara Satu

Pekanbaru,(cMczone.com) – Kita adalah dua orang lelah, yang sama-sama mencari rumah untuk pulang-

Siapa menyangka, kalau ruangan tidak lebih dari lima kali lima meter itu adalah tempat di mana terlahir karya-karya besar, yang membuat namanya melejit dan popularitasnya melambung. Ruangan itu sengaja ia desain dengan ornamen-ornamen berbahan dasar kayu, dengan penerangan temaram –kecuali tepat di atas meja kerja- dengan hiasan lampu warna warni menggantung di dinding dekat pintu.

Pigura-pigura berbahan dasar kayu, atau plastik yang didesain menyerupai kayu, membingkai foto-foto yang membuat orang-orang berdesir saat memandangnya. Fotonya yang dibuat siluet dengan tulisan lirik lagu di atasnya:

I’ve found a reason for me

To change who I used to be

A reason to start over new

And the reason is you

Lirik lagu Reason milik Hoobastank, yang merupakan lagu kesukaan pemuda itu. Pemuda berdarah batak yang fotonya juga terpajang di sana bersama deretan foto-fotonya yang lain.  Ada foto pemuda itu dengan pose mengacungkan jempol, memakai lifting jacket berwarna biru, memakain earset merah, topi hitam dan kacamata hitam. Ia duduk di balik control cabin helikopter.

Di sisi lain, terdapat pula fotonya bersama pemuda itu, sedang menggigit setampuk permen kapas berwarna merah muda dengan tawa mengembang di wajah keduanya. Perempuan itu, Kara namanya. Hanya dengan melihat foto-foto yang terpajang di sana, di dinding ruang kerjanya, semua orang bisa menebak, bawa ia, Kara, dan pemuda itu, pemuda berdarah batak dengan mata sipit, hidung tinggi mencuat dan senyum yang membuat perempuan mana saja menahan napas saat melihatnya, bahwa Kara dan pemuda itu adalah sepasang kekasih yang bahagia. Sangat bahagia.

Kara sedang menekuri kalimat yang baru saja disusunnya di layar laptop, menarikan jari-jarinya yang lentik di atas tuts keyboard, di hadapannya tersanding sepiring kaasbrodje, camilan roti panggang khas belanda, dengan lelehan keju mozarela dan parutan keju chedar di atasnya, serta segelas penuh van drogen dingin yang gelasnya berembun.

 Lalu, salahkah jika pada akhirnya mereka saling jatuh cinta? Mengapa mereka harus terlahir beda? Atau lebih mudahnya, mengapa perbedaan itu harus ada? Gadis itu diadzani saat lahir, sedangkan pemuda itu dibabtis sejak bayi. Jadi, salahkah jika pada akhirnya mereka saling jatuh cinta?

Bukankah cinta adalah anugerah yang maha indah dari Tuhan. Apakah mereka mencintai orang yang salah? Jika benar mereka mencintai orang yang salah, mengapa cinta itu sendiri harus hadir di tengah-tengah mereka? Apakah Tuhan yang salah meletakkan cinta di antara keduanya?

Sekarang, kemana keduanya akan melangkah? Sedangkan jalan yang akan mereka lalui bercabang di hadapan….

Kara berhenti. Jarinya membeku tidak sanggup melanjutkan apa yang ingin ia tulis. Layar laptop masih menyala, menunggu Kara melanjutkan kalimatnya. Perlahan Kara meraih pigura yang terletak di mejanya, pigura yang berisi fotonya bersama Diaz, pemuda itu, kekasihnya. Dalam foto itu, mereka duduk di pelaminan, pelaminan milik Vidyara dan Arham. Foto itu diambil saat mereka menghadiri acara pernikahan kedua sahabat mereka itu. Akankah duduk di sana sebagai pengantin, atau hanya bisa berkunjung sebagai tamu si pengantin…

Deru helikopter di atas, beberapa ratus kaki di atas atap kantor kecilnya, menyentak lamunan Kara. Kara menatap kalender meja di samping laptopnya, hari ini Diaz lepas tugas. Kara beranjak dari tempat duduknya, perlahan melangkah menghampiri jendela. Di sibaknya v-trash  agar dapat melihat dengan jelas ke atas sana. dadanya bergemuruh, ini yang terjadi setiap ia mendengar deruan helikopter. Diaz pulang, artinya perdebatan akan berlanjut. Dan akhirnya mereka akan terdiam. Hening dalam pasrah.

“Kamu yang harus ikut aku. Karena pertanggungjawaban hidup itu ada pada laki-laki. Bahtera rumahtangga itu dipimpin oleh laki-laki.”

Saat itu, Kara mengusap helaian jilbabnya. Paru-parunya mendadak sesak. Kara tidak tau harus menjawab apa. Hening.

“Ya sudah. Nggak usah dipikir lagi. Kita lihat aja sampai di mana kita bisa sama-sama bertahan.”

Akhirnya mereka menyerah. Sadar bahwa diskusi itu tidak pernah ada ujungnya.

 …mereka rindu pulang. Kemana mereka akan pulang, jika rumah yang mereka tuju berlawanan arahnya. Sedang mereka ingin bersama, mereka terlanjur mengikat hati satu sama lain. Apa yang harus mereka lakukan saat mereka lelah? Kemana mereka harus pulang?

             “Belum pulang?”

Kara menegakkan wajah, Diaz berdiri di ambang pintu. Lamat-lamat Kara memandangi pemuda itu, pemuda yang berada di sisinya sebagai kekasih selama lebih dari tiga tahun lamanya. Kara tersenyum tipis, pemuda itu, pemuda berlengan kekar yang membuat Kara selalu merasa aman dan terlindungi saat lengan itu merengkuhnya. Dadanya yang bidang, membuat Kara ingin membenamkan wajah di sana dan menumpahkan segala lelah.

“Sebentar lagi. How your day?” pertanyaan klasik yang belakangan sering diutarakan oleh Kara, karena merasa tidak lagi memiliki bahan obrolan yang pantas untuk dibagikan dengan suka cita seperti biasanya.

***

Pulau Pagerungan,Kepulauan Kangean – Jawa Timur, suatu ketika.

Baru saja Diaz mendaratkan Helikopternya di landasan pacu yang hanya memiliki panjang beberapa ratus meter. Dengan menyandang tas selempang dan menggendong ranselnya, ia berjalan memasuki sebuah bangunan permanen. Satu-satunya bangunan permanen yang ada di pulau itu, di antara rumah-rumah gubug penduduk yang jumlahnya tidak lebih dari tiga puluh rumah.

Sambil menyesap  secangkir kopi hitam yang dibuatkan oleh tukang masak, di dinning room, Diaz mulai membuka halaman demi halaman novel yang saat ini berada di genggamannya. Novel karya penulis yang namanya sedang melejit karena karya-karya yang menyentuh hati. Kara Pradipta. Lamat-lamat Diaz membaca halaman demi halaman dalam novel itu. Wajah cokelat mataharinya, yang biasa dihiasi dengan senyum memukai, perlahan senyum itu memudar tak berbekas. Seperti tidak pernah ada senyum di sana sebelumnya.

***

Kantor Kara, tiga bulan sebelumnya.

Setelah kemarin Diaz datang ke kantornya, tidak seperti biasa, kali ini mereka tidak berniat untuk membicarakan apa-apa. Mereka memilih untuk menghabiskan malam dengan perasaan bahagia. Tanpa mengingat siapa dirinya, atau siapa Diaz. Tanpa peduli bahwa sewaktu lahir ia diadzani, dan ketika bayi Diaz dibabtis. Mereka sepakat untuk melupakan itu, semalam saja. Semalam saja tanpa perlu memusingkan akan dibawa kemana hubungan itu, tanpa peduli, kemana mereka akan pulang, tanpa mau tau rumah mana yang mereka tuju.

Hari itu, dengan senyum anggun seperti biasanya, Kara mulai menarikan kembali jarinya di atas tuts keyboard.

Tuhan tidak pernah salah, nyatanya cinta memang sebuah anugerah. Tentang pada siapa cinta itu bertaut, Tuhan tau yang terbaik. Gadis itu memutuskan untuk tidak pernah pulang. Tidak lagi menginginkan rumah dan kehangatan yang menjanjikan. Begitupun dengan pemuda Mahardika –pemuda yang terbang bebas-

Bagi mereka, rumah adalah hati. Hati di mana mereka merasa nyaman untuk selalu pulang, istirahat, meski nyatanya tidak boleh untuk tinggal selamanya di sana.

BY : RIANA GREY

Komentar

Berita Lainnya