oleh

Cerpen | Pantaskah

Penulis : Bella Xbee

Hijrah itu sulit. Mengharuskan meninggalkan kebiasaan yang sulit dihentikan. Hijrah itu sulit. Membuat kita terlihat jauh dari orang-orang yang kerap bersama kita. Hijrah itu sulit. Membuat banyak orang berbeda sikap terhadap kita.

Namun, hijrah itu istimewa. Pantas saja sulit begitu, karena Syurga hanya dapat diraih oleh dia yang berjuang sungguh-sungguh di jalan Allah.

Namaku Ramadhan. Sudah dua tahun masuk Pondok Pesantren di Liwa, Lampung. Namun, belum kugenggam makna hijrah di tangan. Sulit. Sangat sulit.

Berontak, batinku masih saja gemuruh. Wudhu, shalat, tadaruss, sudah kulakukan. Tetap saja hatiku tak tenang.
Terlebih bisikan-bisikan teman asramaku terus mengusik rungu.

“Rama, dipanggil Gus Azmi!” Aku mengatupkan kedua rahangku. Mengumpat aksi Ahmad memanggilku. Katanya santri. Katanya sudah menimba ilmu lama. Katanya mengerti Al-Qur’an. Kenapa begitu?

“Ram!” serunya lagi. Aku beranjak dari sisi ranjang. Berdiri, beradu tatap dengannya. Jemariku mulai mengepal pasang alarm, kalau Ahmad mulai menginjak-injak harga diriku lagi.

Telunjuknya terangkat, mulutnya hendak mengungkapkan sesuatu. Sesaat ia mendengus kesal, pergi dari hadapanku.

“Aghhh!” Aku kembali duduk. Mengacak-acak rambutku, memukul-mukul kepalaku. “Sial! Kenapa begini? Susah sekali!” makiku pada diri sendiri.

Sayup-sayup terdengar deru langkah kaki masuk ke kamarku. Siapa lagi itu?

“Rama!” Belum siap aku berdiri. Ferrel t’lah mendaratkan pukulan di rahangku.

“Apa-apaan ini?” Aku mundur beberapa langkah. Sambil mengelus bagian rahang yang terkena hantaman Ferrel.

“Apa-apaan pie? Sampean yang mestinya mikir. Gara-gara sampean aku dimaki Gus Azmi. Parahnya sampe keliling asrama. Minta maaf!” jelasnya dengan deru dada naik turun.

Aku melempar senyum kecut. “Alhamdulillah,” sahutku ringan. Sontak mata bulatnya lebih membulat sempurna. Merah menyala, marah tergambar.

“Apa maksudmu?!” Ferrel melangkah, mendorong tubuhku. Tentu, aku tak tinggal dia, kutendang kakinya hingga ia tersungkur.

“Bukannya mulutmu itu yang mengajariku buat selalu bersyukur. Apapun keadaannya. Kenapa kamu marah? Toh aku yang tiap hari kamu gunjing ke sana ke mari tak pernah peduli. Bukan telingaku kebal, El. Aku cuma berusaha ngamalin ilmu darimu. Aku tau kamu senior. Ilmumu jauh di atasku, hapalanmu sudah total. Lah aku? Satu jus pun susah. Tapi, apa perlu kamu gunjing aku dengan ejekan, hah?!” Ferrel terdiam di tempat. Tak bangkit ‘tak bergerak.

Aku meninggakannya begitu saja dengan emosi yang meledak, menghampiri panggilan Gus Azmi.

“Gus,” lirihku menghadap punggung Gus Azmi yang sedang menunduk menghadap kiblat.

Gus Azmi memutar badan, menatapku dengan tatapan menyelidik. “Assalamualaikum Warrahmatullah hiwabarrakatuh,” sapanya lembut.

Aku mendengus kesal. Muak dengan semuanya. Kulihat garis-garis di sekitar wajah Gus Azmi. Entah … emosiku luruh seketika.

“Wa’alaikumussalaam warrahmatullah hiwabarrakatuh,” sahutku lirih.

“Kenapa?” tanyanya seolah tahu kemurunganku.

Aku melangkah, duduk di hamparan sajjadah tepat di depannya.

“Gus. Apa aku salah kalau belajar agama? Apa aku salah jika membenarkan kiblatku? Apa aku salah jika membagi waktu untuk terus bercinta di atas sajaddah dengan nya?”
Gus Azmi menatapku lekat.

“Bukan kamu yang salah, tapi ….”

“Apa Gus? Aku muak di gunjing sana-sini sebagai mantan preman. Aku muak hapalanku tak pernah tuntas.”

“Astagfirullah. Istigfar. Jangan menyerah. Mereka yang mengaku ilmunya di atasmu bukan lah ilmu yang di ridhai Allah. Mereka yang katanya mengerti kitab suci Al -Qur’an tapi tak memahami makna dan mengamalkannya sama saja dengan orang yang bodoh. Jangan berkecil hati dengan mereka, Ramadhan,” jelas Gus Azmi. Aku menunduk, terdiam.

“Kembali ke jalan Allah adalah hidayah, jangan ragu!” jelasnya lagi.

“Tapi aku kotor. Mantan preman!” protesku.

“Mau nunggu bersih, suci, iya? Lalu kapan kamu bisa bercinta dengan Zhat Pencipta-mu? Karena kamu kotor, mari bersihkan dirimu,” jelas Gus Azmi.

“Kami yang salah, Ramadhan. Maaf.” Aku menoleh, menghadap sumber suara. Ferrel, Ahmad, Tiyo, dan kelompok yang biasanya mengucilkanku.

Aku melempar senyum tipis.

“Terima maaf mereka. Inn syaa Allah, kedudukanmu tinggi,” ucap Gus Azmi.

Aku menarik napas panjang, menghembuskan cepat. “Ya aku memaafkan,” sahutku pelan. Binar di mata mereka berkilauan, mungkin sama sepertiku, menyadari letak kesalahan pada diri sendiri.

Aku menunduk, memejam sesaat. Detik selanjutnya aku berdiri, melangkah menuju mimbar paling depan. Bersiap menyerukan adzan Maghrib.

Senja t’lah menyambut akan berganti awan pekat bersama merangkaknya waktu. Hidup itu singkat, namun pasti.

Setiap hamba akan diuji dengan ujian yang t’lah di tetapkan untuk menentukan siapa yang pantas!
Dan, pantaskah kamu jika hanya menilai orang lain, namun lupa akan penilaian dirimu sendiri.

 

Sumber : https://m.facebook.com/sis.el.737?refid=18&__tn__=%2As-R&_rdr

Komentar

Berita Lainnya