oleh

Peragawati yang Tersesat, Dikeroyok, Hingga Ajaran Kesederhanaan ala Irjen Fakhrizal

-Tokoh-405 views

JUNI tahun 1988 barangkali menjadi bulan yang tak akan pernah dilupakan Irjen. Pol. Drs. H Fakhrizal, M.Hum. Di bulan itulah dia bertemu dengan sang tambatan hati, Ade Fakhrizal, seorang peragawati muda yang hingga kini tetap setia mendampinginya.

Keduanya bertemu setelah Ade yang berstatus Putri Ayu Sumatera Barat tahun 1988 itu, mewakili Sumbar ke ajang Putri Ayu Indonesia di Jakarta.

Keduanya dipertemukan Tuhan dengan cara yang unik. Usai ajang, Ade yang menjadi juara tiga, berjalan-jalan dengan finalis perwakilan Lampung dan Jawa Timur. Sialnya, mereka malah tersesat dan minta ditunjuki jalan pada Polantas.

Tahu yang tersesat orang Sumbar, petugas lantas itu lalu memperkenalkan gadis-gadis cantik itu dengan Fakhrizal. Harapannya, agar Fakhrizal menjadi penunjuk jalan. Rupanya, perkenalan itu menjadi awal kebersamaan keduanya. Mereka malah saling bertukar alamat.

Baca Juga :   Kabag Persidangan DPRD Riau Muflihun Ucapkan Selamat Menunaikan Ibadah

“Sama-sama orang Minang, tapi bertemunya di Jakarta,” ungkap Fakhrizal, sosok kharismatik kelahiran Bukittinggi, 26 April 1963 silam itu, sebagaimana ditulis Bhenz Maharajo.

Setelah berkomunikasi selama enam bulan, dan tiga kali bertemu, akhirnya Fakhrizal memberanikan diri untuk melamar Ade. Dia merasa yakin, Ade yang saat itu berstatus sebagai pegawai bank mampu menjadi pendampingnya seumur hidup.

Lamaran Fakhrizal diterima, keduanya melangsungkan pernikahan. Pilihan Fakhrizal tak salah, Ade Fakhrizal merupakan pilihan yang tepat. Keduanya seirama menempuh pasang surut kehidupan.

Kala menikah, Fakhrizal sedang bertugas di Polsek Pasar Minggu, Jakarta, dengan pangkat Letnan Dua (Letda), atau sekarang setara dengan Iptu. Gajinya Rp93 ribu, sangat jauh dari kata cukup untuk membiayai hidup. Tinggalnya juga di asrama.

Baca Juga :   Jadi Pemimpin, Irjen Pol Fakhrizal Ingin Diingat Sebagai Sosok Seorang Ayah

“Di tahun-tahun pertama menikah, kami begitu diuji. Gaji pas-pasan, kadang kurang. Tinggalnya di asrama. Kadang, gaji hanya cukup untuk setengah bulan. Untuk menyambung hidup, seringkali hanya makan mie. Tapi hebatnya, istri tak pernah mengeluh. Kalau saya sudah terbiasa susah,” kenang Fakhrizal.

Sementara sang istri, Ade Fakhrizal menceritakan satu kenangan yang hingga kini masih melekat dalam ingatannya. Sebuah peristiwa yang membuat dirinya semakin yakin dengan tambatan hatinya itu. Kala itu, Ade dengan mata kepalanya sendiri, pernah menyaksikan ketika sang suami tercinta dikeroyok oleh tujuh orang pria berpostur tegap.

“Bapak waktu itu dikenal sangat pemberani. Pernah, saat pergi berdua, kami diganggu oleh tujuh orang pria. Keributanpun tak terelakkan ketika Bapak turun dari mobil dan menghampiri mereka. Dengan jelas saya melihat Bapak dikeroyok. Tapi Alhamdulillah, Allah SWT melindungi. Ketujuh pria itu kalah, mereka lari tunggang langgang,” kenang Ade dikutip sumbartoday.com.

Pasangan bahagia Fakhrizal dan Ade, dikaruniai empat orang anak. Si sulung, Alfano Ramadhan mengikuti jejak ayahnya sebagai polisi, tiga lainnya perempuan. Mereka adalah si kembar Julia Nofadini dan Julia Nofadina, dan terakhir si bungsu yang diberi nama Syarfina.

Baca Juga :   Peringatan dan Ujian Kita !.

Kepada anak-anaknya, Fakhrizal mengajarkan kesederhanaan. Dia ingin anaknya menjadi pribadi yang rendah hati, luhur dan tidak merasa tinggi hati dengan segala karunia yang diterima. Fakhrizal juga senantiasa menekankan, agar di setiap langkah kehidupan anak-anaknya, kelak bisa memberikan manfaat dan kebaikan bagi sesama. (**)

Komentar

Berita Lainnya