Jejak Kelam Romusha hingga Pesona Geopark Silokek, Bupati Sijunjung Sambut Keluarga Korban Kerja Paksa Belanda

cMczone.com, Sijunjung – Bupati Sijunjung Benny Dwifa Yuswir menerima kunjungan WNA asal Belanda yang merupakan keluarga keturunan pekerja romusha pada masa Perang Dunia II dikediaman Bupati, Sabtu (16/5/26) malam.

Pada saat itu, Bupati didampingi Plh. Sekretaris Daerah, Jaheri, Asisten Lingkup Setdakab, Ketua TP PKK, Ny. Nedia Fitri Benny Dwifa serta Kepala OPD terkait.

Kedatangan rombongan tersebut bukan sekadar perjalanan wisata biasa. Mereka datang untuk menapaktilasi jejak sejarah kelam pembangunan jalur rel kereta api Muaro Sijunjung–Pekanbaru yang dibangun dengan kerja paksa oleh tentara Jepang pada tahun 1943 hingga 1945.

Rombongan diajak berziarah ke bekas lokasi tempat orang tua mereka dahulu dipekerjakan sebagai romusha di kawasan lokomotif Durian Gadang dan berwisata di Ngalau Basurek Silokek.

Bupati Sijunjung bersama WNA Belanda

Ketua Yayasan Peringatan Jalur Kereta Api Burma Siam dan Kereta Api Muaro-Pekanbaru, Wouter Neohouse, mengungkapkan rasa haru bisa menginjakkan kaki langsung di tanah yang menjadi saksi penderitaan para pekerja paksa puluhan tahun silam.

“Kami adalah keluarga keturunan bekas pekerja romusha Belanda yang dipekerjakan oleh tentara Jepang dalam pembangunan jalur rel dari Pekanbaru ke Muaro Sijunjung 80 tahun yang lalu,” ungkapnya.

Baca Juga :   Dalam Rangka Menyambut Hari Raya Idul Fitri 1443 Hijriah : Dewan Pimpinan Cabang Partai Demokrat Santuni Anak Yatim

Kemudian, Wouter menyerahkan bunga melati sebagai simbol hubungan sejarah antara Belanda dan Indonesia kepada Bupati Sijunjung. Ia juga memberikan sebuah buku dokumentasi berisi potret dan kisah singkat para mantan pekerja romusha.

“Kami yang hadir ini ada kaitannya dengan pekerja romusha, sebagian kami ada yang darah Indonesia dan ada yang lahir di Indonesia, kami menggunakan melati sebagai simbol hubungan diantara kami, sekarang saya ingin memberikan melati ini kepada bapak bupati,” tambahnya.

Ia menyebut, selama ini kisah tentang jalur kereta api maut itu hanya mereka dengar dari cerita keluarga dan dokumen sejarah. Namun kini, mereka dapat melihat langsung lokasi tempat para leluhur mereka pernah bekerja di bawah tekanan dan kekejaman perang.

“Ini pertama kalinya kami datang ke Sijunjung. Awalnya tujuan kami hanya untuk berziarah, tetapi ternyata kami seperti sedang berwisata karena alam Sijunjung sangat indah,” katanya.

Wouter juga menceritakan bahwa beberapa hari sebelumnya mereka telah menggelar upacara peringatan di Pekanbaru untuk mengenang ribuan romusha yang meninggal dunia saat pembangunan rel kereta api tersebut.

Baca Juga :   FPII Sumut Apresiasi Polri Terkait Pelaku Pembunuhan Wartawan

Tak hanya itu, setiap bulan Agustus di Belanda juga rutin dilaksanakan upacara mengenang kekejaman kerja paksa pada masa Perang Dunia II.

Sementara itu, Bupati Benny Dwifa Yuswir menyampaikan selamat datang dan apresiasi atas kunjungan rombongan keluarga romusha Belanda ke Kabupaten Sijunjung.

Menurutnya, sejarah jalur kereta api di Sijunjung memiliki dua cerita besar, yakni pembangunan rel oleh pemerintah kolonial Belanda dan pembangunan rel menggunakan tenaga kerja paksa romusha pada masa pendudukan Jepang.

“Dokumen pembangunan rel pada masa Belanda masih tersimpan rapi dalam arsip resmi pemerintah, mulai dari peta, foto hingga laporan administrasi. Namun dokumen pembangunan rel oleh romusha pada masa Jepang hampir tidak ditemukan,” jelas Benny.

Ia menuturkan, sebagian besar dokumen militer Jepang terkait pengerahan romusha diduga dimusnahkan menjelang berakhirnya perang pada tahun 1945.

Benny juga menjelaskan bahwa Muaro Sijunjung pada masa itu merupakan daerah penghasil batu bara yang sangat penting bagi kepentingan perang Jepang. Karena itu, Jepang membangun jalur kereta api menuju Pekanbaru demi memperlancar distribusi batu bara.

Baca Juga :   Peduli Dampak Covid-19, Polres Tanjungpinang Gelar "Bakti Kemanusiaan Donor Darah"

“Di tengah medan berat dan perlakuan di luar batas kemanusiaan, ribuan romusha dipaksa bekerja. Banyak yang meninggal secara mengenaskan,” ujarnya.

Di balik kisah sejarah kelam tersebut, Bupati Benny turut memperkenalkan potensi wisata unggulan daerah, yakni Geopark Silokek kepada WNA asal Belanda.

Promosi itu dilakukan untuk memperluas jaringan wisata mancanegara sekaligus mengenalkan pesona alam Kabupaten Sijunjung ke dunia internasional.

“Geopark Silokek merupakan salah satu kebanggaan Kabupaten Sijunjung yang memiliki potensi luar biasa. Kita ingin dunia mengenal keindahan alam dan budaya daerah ini,” kata Benny.

Ia juga memaparkan peluang investasi di sektor pariwisata, ekonomi kreatif hingga wisata berbasis lingkungan berkelanjutan.

“Geopark Silokek ini dikenal dengan panorama karst eksotis, gua alami, hingga wisata petualangan yang memikat,” bebernya.

Bupati berharap Geopark Silokek mampu menjadi magnet wisatawan mancanegara, termasuk dari Belanda yang memiliki keterkaitan sejarah dengan wilayah Kabupaten Sijunjung.(dicko)