oleh

Seorang Putri Tak Pantas Sebagai Pekerja Seks

Oleh : Habiburrahman 

PEKANBARU – Tentu sebagian orang tahu “Pekerja seks, adalah wanita biasa yang melakukan pekerjaan itu.”

Tapi bagaimana kalau itu adalah Putrimu ? Tentunya anda tidak ingin melihat anak anda melakukan pekerjaan seks. ”

Demikianlah pertanyaan umum yang sering muncul di setiap topik mengenai pekerja seks.

Setuju atau tidak setuju dengan apa yang saya pikirkan bahwa saya tidak ingin anak perempuan masuk ke dalam profesi itu.

Faktanya, hampir disetiap sudut kota di indonesia masih banyak orang yang melakukan pekerjaan seks. tidak bisa dipungkiri orang-orang tersebut diizinkan untuk melakukan profesinya dimana tubuh mereka dipandang sebagai alat perdagangan.

Seharusnya profesi seperti ini harus dipertanyakan secara moral, ketika seorang wanita harus berhubungan seks sebagai profesinya.

Baca Juga :   PDK Kosgoro Jabar Gelar Pelatihan JURNALISTIK KEBANGSAAN

Setidaknya, bukan itu banyak terjadi di Indonesia. Ada banyak negara lain di mana kerja seks menjadi legal. seperti Selandia Baru, yang mendekriminalisasi kerja seks pada tahun 2003.

Perdagangan manusia, terutama perempuan dan anak-anak dipaksa melakukan pekerjaan seks (atau pekerjaan lain), hal demikian sangat keji secara moral, bukan karena suatu pekerjaan seks karena dengan alasan terpaksa.

Namun, pencegah pelacuran melalui situs-situs atau media sosial dengan memberi larangan agar tidak melakukan profesi tersebut, malah akan mendorong lebih jauh lagi ke bawah, hal ini tidak selalu dianggap bermanfaat untuk mengakhiri perdagangan manusia.

Memang hal seperti ini dibutuhkan kritik terhadap larangan perdagangan manusia, yang pada akhirnya akan mengarah pada peningkatan laporan dan pengaduan dari masyarakat.

Baca Juga :   FORBA Imbau Agar Stakeholder Negara Tidak Melupakan Tumbal Demokrasi

Namun, sangat mungkin orang sudah mau melihat dan mau melaporkan dalam jumlah yang lebih besar mengenai adanya perdagangan.

Padahal, pekerjaan seks adalah profesi yang sangat berbahaya kerna cenderung membuat perempuan tidak bersuara. masyarakat akan mengabaikan apa yang mereka katakan karena banyak orang tahu bahwa mereka tidak perlu mendengarkan pekerja seks, atau menganggap mereka adalah hal yang jijik atau kasihan.

Ada banyak orang di luar sana yang tidak mau menerima kenyataan bahwa, sebagian besar, pekerja seks hanyalah perempuan biasa yang melakukan pekerjaan yang di sukai atau tidak suka dengan alasan biasa (untuk membayar sewa , atau mendukung anak-anak mereka, atau menabung untuk tujuan masa depan.

Baca Juga :   Usut Kasus Korupsi Kepala Daerah, KPK Harus Tunjukkan Keseriusan

Ini bukan masalah dengan kerja seks. Itu masalah yang berkaitan dengan sejauh mana kita menolak individu, terutama wanita, yang melakukan pekerjaan seks. seringkali dalam kasus pornografi, kita lihat melihat mereka menikmati pekerjaan yang mereka hasilkan.

Dan kita perlu menyadari bahwa, setiap wanita merupakan putri dari seseorang, hal tersebut tentu sangat tidak pantas harus di perdagangkan.

Komentar

Berita Lainnya