Setetes Air dari Seekor Semut

Lelaki setengah baya itu berdiri agak termangu. Bibirnya gemetar mengucapkan berkali-kali rasa terima kasih dan iringan doa. Bungkusan yang berisi beras, mie instan, telur, gula, minyak goreng dan teh yang disumbangkan oleh Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) Orda Tanjungpinang itu dia terima dengan perasaan yang mendalam. 

“Saya lihat wajahnya tersirat kegembiraan meski rasa haru juga sesuatu hal yang tidak bisa disembunyikan”

Lelaki itu bernama Wirta, seorang warga kurang mampu yang bekerja serabutan agar bisa bertahan saat pandemi pelan-pelan menebar ketakutan di negeri ini. Lelaki yang tinggal di Kampung Mekar Jaya, Kelurahan Batu 9, Kecamatan Tanjungpinang Timur ini harus berjuang sendirian demi anak dan istrinya meneruskan hidup.

Baca Juga :   Beritakan Hoax, Kompas dan Tribunnews Jangan Jadi Penjilat Pantat Kapolsek

Terkadang anak lelakinya juga membantu bekerja sedapatnya. Istrinya yang mengalami gangguan penglihatan, praktis hanya di rumah mengharap jerih payah suaminya dalam mencari penghidupan.

Di situasi seperti sekarang ini, kita tidak pernah tahu berapa ribu orang mengalami nasib seperti Wirta. Bekerja seadanya dan bertahan semampunya. Mereka adalah garis terdepan yang harus diselamatkan agar pandemi tidak memunculkan kemiskinan baru. Agar pandemi tidak menambah wajah-wajah baru yang penuh air mata dan kedukaan.

Apa yang dilakukan ICMI Orda Tanjungpinang merupakan setitik cahaya di tengah kegelapan nasib mereka yang kian terpinggirkan. Dan kita yakin mereka yang punya kemampuan yang sama juga bergerak untuk peduli pada mereka yang bernasib seperti Wirta. Bergerak untuk peduli meski hanya berbentuk setetes embun.

Baca Juga :   Undang - Undang Pers Belum Mampu Melindungi Para Pegiat Pers

“Saya teringat sebuah sambutan manis yang diberikan oleh Wakil Ketua ICMI Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) Sardison ketika melepas secara simbolis penyerahan bantuan dalam program ICMI Peduli, tadi pagi di halaman SMA Negeri 4 Tanjungpinang”

Bahwa jangan dinilai dan diukur besarnya kontribusi dari seekor semut yang bersusah payah membawa air untuk membantu memadamkan api yang membakar Ibrahim. Tetapi nilailah kuatnya kepedulian, kuatnya keikhlasan untuk membantu meringankan beban mereka yang tertimpa musibah. Karena sejatinya kualitas perbuatan selalu dilihat seberapa tepat kita untuk menempatkan empati kita pada situasi dan tempat yang bisa membuat orang lain tersenyum.

Apa yang dilakukan ICMI Orda Tanjungpinang mungkin hanya setetes air yang dibawa oleh seekor semut.

Baca Juga :   Pandang Sayang di Pulau Tulang

“Tetapi saya yakin banyak semut-semut yang lain akan bergerak yang sama untuk memadamkan api kegalauan masyarakat kita”

Hari ini mungkin kita masih diberikan kesempatan untuk membantu. Kita tidak pernah tahu esok atau lusa, giliran kita yang meminta untuk dibantu. Karena hidup hanya sebuah roda yang berputar. Dan kita tidak pernah tahu rahasia tentangnya.

Mari berbuat sebisanya dan membantu semampunya. Meski hanya sebesar biji sawi sungguh sangat bernilai kita dalam berkontribusi.

Salam Peduli,

Suyono Saeran